Archive for the ‘Fotos’ Category

Refugees are Cheated by Herman Wainggai

September 25, 2008

Hana Gobay

Hana Gobay (Cen. Post Doc)

 

The issue on refugees who fled to Australia to go back to Indonesia has arisen not long after a group of 43 Papuans arrived at Cape Town on January 13, 2006.  It is known that Herman Wainggai, group’s leader, has ever denied claim that they want to return. “They want to go back is simply wrong,” Herman said.  In fact, they really want to go back to Indonesia. Let us see what Hana Gobey and Yubel Kareni did.

 

Hana Gobey who claimed to pay Rp. 7 Million to Herman Wanggai got a rumors were circulated by Herman that they would be jailed and killed once they arrived in Indonesia.  However, both guys believed the rumors are untrue.   With any efforts, Hana Gobey from Merauke and Yubel Kareni from Serui gained access to Indonesia Consulate General in Melbourne. Their willing to go home was expressed to Jahar Gultom, the consul for economic affairs.

 

Then, with the help of Australian and Indonesia government, both arrive at Mopah Airport in Merauke on a flight from Bali. “The promises Herman W.  made to us will never come true,” said Hana at Frans Kaisepo, Biak on 24 September 2008. Hana was greeted with tears and hugs by her mother Bastina Gobay. “God has answered prayers and now we are reunited after three years apart, ” a tearful Bastina said. Meanwhile, Yubel Kareni said,” I thank the Indonesia Government who had helped me to return home.    

Advertisements

Perjuangan Merah Putih Monument

September 23, 2008

Tubir Seram island

Tubir Seram island

Perjuangan Merah Putih Monument is  erected at Tubir Seram island. Tubir Seram island is well known as an amazing and beautiful natural scenery. Located in front of Fak-Fak town, this island is popular with a garden full of many colorful flowers and many types of plants.  Another place that can be visited is  a mini museum  which built to save artifact of historical values. To get there, it takes only five minutes from Fak-Fak town by boat.

Jangan Ganggu Kami

September 23, 2008

Jangan tembaki kami

Jangan buru kami

Jangan tangkap kami

 

Biarkan Bulu Indah warna-warni

Menghiasi Bumi Pertiwi

Banggalah dengan Kehadiran Kami si Burung Surga ini

Berhias Kuning, Hijau, dan Coklat

Menyelimuti Diri

Demikian juga dengan Dara Mahkota

Atau Mambruk kata Mereka

Berhias Biru, Putih dan Abu-abu

Bermahkota Setiap hari

Ingin Hidup Ribuan Tahun lagi

 

Jangan hanya puas tonton kami di Kebun Binatang

Selamatkan pula Kami di Papua tempat kami berasal

Jikalau engkau membunuhku

Tentu Anak-anakmu tak akan melihatku Lagi

Selain hanya di Kertas dan Movie

 

Kamipun ingin hidup seperti dirimu

Terbang Bebas di Alam Hijau Indonesia Ini

 

Cegahlah kami dari Kepunahan

Lindungi Kami dari Kejahatan

Biarkan Anak-cucumu Senantiasa Bersama Kita

Turut Amankan Kami dari Gangguan

 

Hingga Terus Terbang Bebas Menghiasi Langit

Menikmati Keindahan Alam Indonesia Kita

Sepanjang Masa

Peaceful Message from a Papuan Brilliant Artist.

September 23, 2008

Peace Dancing by Yenno

Peace Dancing by Yenno

Franky Yenno is a Papuan artist living in Manokwari. His concern on peaceful society has been delivered through his art such ac carving.  His artwork is to remind Papuan people who coming from hundred of tribes to promote peace in order to develop Papua  land and to live side by side with other Indonesians equally. One of his art carving said  that Hukum Adat or customary law is a means to be used to reach  peace agreement.

 

After agreement, they  celebrate it in a number of rituals such as Barapen (meaning Bakar Batu – burning stone) ceremony and Peace Dancing.  After getting war, they could dance together hand in hand as brothers and sisters.

 

 

OPM Comes Back to NKRI

July 4, 2008

Hundreds of TPN/OPM members are ready to come back to the city and wants to be The Republic of Indonesia Citizen ( NKRI).  Their willing is positively greeted by Vice Chairman II DPR Papua Paskalis Kossy, SPd and Chairman of Laskar Merah Putih of Papua Province Nico Mauri.

“Until now they (OPM in the jungle) have been utilized by  OPM politicians who live in the city or overseas to rise fund and they miserable and it is time to come back to the city, live among society and build Indonesia together”  Nico said. Welcome back.

Pesan Kebangkitan Deddy Miswar juga untuk Pemuda-pemudi Papua

May 28, 2008

Bangkit itu takut
takut untuk korupsi dan mengambil
apa yang bukan haknya
Bangkit itu mencuri
mencuri perhatian dunia
dengan prestasi kita

Bangkit itu malu
malu menjadi benalu
malu minta meluluBangkit itu tidak ada
tidak ada kata menyerah

Bangkit itu aku
untuk indonesiaku

 

  

* Deddy Mizwar on a television

The Celebration of May Integration in Papua is Successful

May 5, 2008

Celebration

Happiness, energetic and enthusiastic are three words that come to mind when describing Papuan community to commemorate the West Papua integration day (NKRI) on May 1, 2008. As we know, they have been two week to prepare and welcome the historical day such as race walking followed by thousands of participants. This year, the commemoration day on May 3 at Mandala square is the first and biggest one because it was usually celebrated modestly. The postponement till two days from the exact date was caused on May 1 is coincided with Labor Day and Ascension of Jesus and on May 2 along with the holiday. The other activities will also adorn this torque are the people’s party at Sentani Lake which performs some regional art and dance, the meditation night at Imbi Garden Jayapura, the student’s visit to the leading figures of Papuan heroes, pilgrimage to heroes cemetery (TMP) at Waena and TMP Marthen Indey at Kertosari and people’s entertainment. The Sentani lake is one of the very monumental lake during May 1, 1963 because Harapan Village in Sentani was a place where Netherlands handed over West Papua to NKRI (President Soekarno).

According to Chairman of Commemoration Committee Dandim 1701/Jayapura Lt Col Kav.A.H Napoelon, the main goal to commemorate the torque on a large scale is to inspire the spirit of nationalism and patriots and to invite all of community’s components to recall again heroic history, and also want Papua to became the hope of the nation in the future. “On May 1 as the date of the West Papuan integration to the NKRI is the pillar of the struggle history of the Indonesian nation to expel colonizers from Indonesia motherland . It means that the sovereignty and unity of the Indonesian nation from Sabang to Merauke were realized,” he said after visiting to Hero Cemetery at Waena on Tuesday, April 29 2008.

As the peak of the celebration is the large scale ceremony (similar with Independence Day celebration of August 17 including waving red white flags) at Mandala square on May 3, 2008. Those activities are followed by all of the community’s component such as polices/armies, Papuan leading figures, public figures, religious figures, young men and women generation, as well as students. Papuan Governor Barnabas Suebu, SH in his opening speech red by his secretary (Sekda) Drs. Tedjo Soeprapto,”The history book of West Papua integration will be used a mandatory local curriculum so it will be taught since Elementary until Senior High School. Interestingly, the personnels who wave a red-white flag uniformize Papuan traditional. Chairman of Young Generation Forum for West Papua Liberation Nico Maury proposes to Centrak Government to determine May, 1 as the integration Day and celebrated in all over Indonesia from Sabang to Merauke. The similar statement is also mentioned by an NKRI Papuan leading figure Ramses Ohee. We also agree and support that National Integration Day (Hari Keutuhan Nasional) is a must be commemorated by all Indonesian people from Sabang to Merauke. (Pick and Choose from many sources).

 

 

Hari Keutuhan Nasional : Peringatan ke-45 Kembalinya Irian Barat (Papua) ke NKRI.

May 2, 2008

Antusias masyarakat Papua (Papua dan West Papua) untuk memperingati hari kembalinya Irian Barat pada 1 Mei 2008 terlihat sangat besar sekali. Sejak dua pekan lalu  gema kegiatannya sudah terlihat, seperti lomba gerak jalan yang telah diikuti oleh ribuan peserta dari semua kalangan.  Memang peringatan kembalinya Irian Barat (Papua)  kali ini yang akan dilaksanakan pada 3 Mei di Lapangan Mandala adalah yang pertama kalinya diselanggarakan secara besar-besaran.  Penundaan hingga 2 hari dari tanggal yang semestinya dikarenakan pada 1 Mei bertepatan dengan hari buruh dan hari libur kenaikan Isa Almasih dan  pada 2 Mei bersamaan dengan libur cuti.  

Kegiatan lain juga bakal menyemarakkan momen tersebut adalah pesta rakyat di Danau Sentani dengan menampilkan beberapa kesenian dan tarian rakyat,  malam renungan di Taman Imbi Jayapura, anjangsana pelajar ke para tokoh pejuang Papua, ziarah ke TMP di Waena dan TMP Marthen Indey di Kertosari dan juga hiburan rakyat.  Sebagai puncak peringatan adalah upacara secara besar-besaran (seperti peringatan 17 Agustus termasuk pengibaran merah putih) di Lapangan Mandala. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh komponen masyarakat, baik TNI/Polri, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan serta para pelajar dan Mahasiswa.

Menurut Ketua Panitia Peringatan Kembalinya Irian Barat ke NKRI Tingkat Provinsi Papua Dandim 1701/Jayapura Letkol Kav. A.H Napoelon,  tujuan utama diperingatinya momen itu secara besar-besaran adalah untuk meningkatkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air dan mengajak semua komponen masyarakat untuk mengenang kembali peristiwa heroik, dan juga ingin Papua ini menjadi harapan bangsa Indonesia ke depan. “1 Mei sebagai hari kembalinya Irian Barat ke Pangkuan NKRI merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah dari bumi pertiwi dengan ditandai kembalinya Irian Barat ke NKRI. Ini berarti bahwa kedaulatan dan keutuhan Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke telah terwujud,” katanya seusai mengikuti ziarah ke Taman Makam Pahlawan di Waena pada  Selasa 29 April 2008.

Danau Sentani termasuk salah satu wilayah yang sangat monumental saat 1 Mei 1963. Dimana saat Belanda menyerahkan Irian Barat ke NKRI Presiden Soekarno mencanangkan pertama kalinya di Kampung Harapan, Sentani.  Di tengah rangkaian upacara itu, para mantan pejuang akan membacakan ikrar agar 1 Mei dijadikan hari libur nasional yakni sebagai hari keutuhan nasional. Mengapa demikian, sebab saat 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamirkan sebagai Hari Kemerdekaan, Irian Barat ini masih ditahan dan dijajah Belanda. Selanjutnya pada 1 Mei 1963, Indonesia yang tadinya hanya dari Sabang sampai Maluku, wilayahnya sudah utuh yakni meliputi dari Sabang sampai Merauke dengan ditandai kembalinya Irian Barat (Papua) ke NKRI. Hari Keutuhan Nasional wajib diperingati seluruh Bangsa Indonesia dari sabang sampai Merauke.

 

 

 

 

 

Ubi Jalar (Petatas) dan Keladi (Kastela) makanan khas Papua yang akan Go Public

February 20, 2008

Tanaman ubijalar (petatas) dan keladi (kastela) merupakan makanan khas masyarakat pedalaman Papua dan masyarakat Papua umumnya.  Olah karenanya sangat tepat jika  Direktris Yayasan Honai Timika Ibu Anastasia Takage, SA.g  mengembangkan dua tanaman yang merupakan makanan pokok masyarakat gunung ini, sebagai tanaman yang mempunyai nilai jualannya sangat tinggi, seperti dikatakannya pada Rabu 13 Pebruari 2008. Sebagai anggota dewan, juga sebagai anak Papua pedalaman, Ibu Anastasia mengaku merasa terpanggil untuk mengembangkan dua jenis makanan pokok suku pedalaman ini menjadi makanan khas berkualitas tinggi dan disajikan pada semua momen acara besar atau kecil di daerah ini.   

 Yam vs. sweet potato

“Kehidupan masyarakat Papua terutama masyarakat pedalaman, dengan adanya modernisasi perlahan-lahan orang mulai lupa dengan makanan khas yang merupakan warisan nenek moyang ini. Bagi Yayasan Honai melihat ini sangat menarik, sehingga kedua tanaman ini perlu ada program budidaya dengan persemaian yang baik sehingga hasilnya mempunyai kualitas yang tinggi, dan sebagai makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi pula,” kata Ibu Anastasia yang juga Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kabupaten Mimika ini.Untuk membudidayakan kedua tanaman ini, Yayasan Honai bekerjasama dengan beberapa kepala kampung yang ada di beberapa Satuan Pemukiman (SP-SP). Para kepala kampung telah memberi 3 hektare lahan, yang kemudian kelompok-kelompok ibu-ibu yang ada pada kampung tersebut mengelola lahan ini sebagai kebun percontohan. Melalui kebun percontohan ini, maka ke depan lahirlah petani-petani petatas dan keladi yang secara rutin menghasilkan petatas dan keladi dalam jumlah yang begitu banyak. Petatas dan keladi yang dihasilkan oleh kelompok ibu-ibu maupun dari lahan-lahan secara pribadi itu, akan dibeli oleh Yayasan Honai yang selanjutnya akan dipasarkan keluar Timika. Informasi yang beredar, lanjut Anastasia di Nabire akan dibangun sebuah Pabrik Tepung Tapioka. 

Bila rencana tersebut terealisasi dalam beberapa tahun ke depan ini, jelas mereka akan membutuhkan stok atau pasokan singkong, keladi, petatas dari mana saja dalam jumlah yang banyak.  Selanjutnya,  Petatas dan Keladi memang tidak hanya menjadi makanan khas orang Papua yang mempunyai nilai gizi, protein, dan mineral yang tinggi, namun melengkapi referensi makanan khas Indonesia.

Kunjungan Wapres Jusuf Kalla ke Papua

February 19, 2008

Jayapura.WPP. Pada Jum’at, 15 Februari 2008 Wakil Presiden H Muhammad Jusuf Kalla tiba di Jayapura. “Dukungan rakyat Papua sangat kondusif,” ujar Dansatgas pengamanan VVIP Kolonel Kav Burhanuddin Siagian yang juga Danrem 172/PWY. Ini tentunya menjadi bukti bahwa rakyat Papua menginginkan pembangunan berkelanjutan.

Wapres dan rombongannya tiba di Bandar Udara Sentani sekitar pukul 15.45 WIT dengan pesawat kepresidenan RJ-85 setelah terbang dari Kendari Sulawesi Tenggara. Di Bandara Udara Sentani, Wapres Jusuf Kalla disambut oleh Gubernur Barnabas Suebu, SH, Gubernur Papua Barat Bram O Aturui, Ketua DPR Papua Drs John Ibo, MM, Ketua DPR Papua Barat Demianus Idjie, Ketua MRP Agus Alua, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjend TNI Haryadi Soetanto, Kapolda Irjend Pol Drs Max Donald Aer dan sejumlah pejabat lainnya.Terlihat dalam rombongan Wapres diantaranya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS Pazkah Suzeta, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto dan lain-lain. Terlihat juga Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Menteri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Fredy Numberi yang sudah tiba sejak Kamis lalu.

Setibanya di Bandara Sentani, Wapres Jusuf Kalla langsung istirahat sejenak di ruang tunggu VIP selama kurang lebih 10 menit dan selanjutnya masuk ke mobil kepresidenan yang platnya bertuliskan Indonesia 2 lengkap dengan Bendera Merah Putih. Di mobil tersebut, Wapres didampingi Gubernur Suebu hingga sampai ke Swissbel Hotel Ruko Dok II Jayapura.Sepanjang jalan yang dilalui oleh rombongan Wapres, semuanya berjalan lancar, termasuk cuaca yang bersahabat. Bahkan di sejumlah tempat dipinggir jalan dari Sentani hingga Jayapura terlihat warga yang menyambut rombongan Wapres di tepi-tepi jalan ingin menyaksikan Wapresnya dari dekat. Di SwissbelHotel, Wapres disambut oleh Walikota Jayapura Drs Menase Robert Kambu dan sejumlah pejabat lainnya.