Archive for the ‘Event’ Category

Today is Papua Holiday

February 5, 2009

 

Today is Thursday, 5 February 2009. Papua is publishing an official holiday for commemorating the 154th Bible Service (Pengkabaran Injil ).  Some agendas that happened are at least the inauguration of  a Nabire Regent and discussion of a book entitle  Fajar Merebak di Tanah Papua written by  Pdt Reiner  Schuimaan.  The number 154 is counted from the beginning of Bible entering at Mansinam Island.  Mansinam island of 410,97 ha which located at Doreri Bay  is an interesting tourism destination.  Last year, we crossed it by using a traditional long boat with a price of  3.000 Rupiahs for  10 -15 minutes.  Not only we visited Gua Kelelawar but also some historical places that on February 5, 1855 tho Germany, Carel William Otto and Johan Gotlob, put their steps. Happy Holiday.

Advertisements

International Parliamentarians for West Papua (IPWP) : Uncover Vanuatu Link

October 31, 2008

Kalosil Hanya Popularitas

Kalosil Hanya Popularitas

 

One of overseas leading figures who attended International Parliamentary for West Papua (IPWP) in London was Moana Carcasses Kalosil. Who is he ?  He served as foreign minister (bertugas sebagai menteri luar negeri) under Prime Minister Edward Natapei (PM Edward) from 2003  to 2004. Following parliamentary elections, he became minister of finance on July 28, 2004 under Prime Minister Serge Vohor. He kept the post of finance minister when  Ham Lini became prime minister later in 2004.  But,  on November 14, 2005 he was sacked by Ham Lini for unclear reasons, which he led into the oposition. (Diberhentikan dari jabatannya)

From his CV we know that he does’t have any job (pengangguran) in the government except as the deputy leader of the oposition (wakil kepala oposisi).  It means that he, a member of the Vanuatu Green Party,  doesn’t represent Vanuatu government (tidak mewakili pemerintah Vanuatu).  As a young Papuan student Yohanes said,  “What he did in London was the same with two UK parliament members were doing  that is “to get popularity” (hanya mencari popularitas).  

International Parliamentarians for West Papua, Membongkar Jaringan London

October 30, 2008

 

Berdasarkan investigasi, aksi segelintir kelompok ektrim pimpinan Benny Wenda telah mengadakan kegiatan di London dengan tema ”International Parliamentarians for West Papua” (IPWP) pada 15 Oktober 2008. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 3 anggota Parlemen Inggris, 1 anggota Parlemen Papua New Guinea (PNG), 1 anggota Parlemen Vanuatu dan 30 simpatisan separatis. Kegiatan yang tidak didaftarkan tersebut (kegiatan non formal), disebutnya sebagai gerakan internasional, sama sekali tidak menarik perhatian publik. Para annggota parlemen yang menghadiri kegiatan tersebut tentunya mereka yang masih menutup mata dengan perkembangan demokrasi di Indonesia dan perkembangan otonomi khusus yang sudah diterima luas oleh masyarakat Papua.

WPP kali ini menurunkan hasil investigasi dari mereka-mereka yang hadir utamanya dari Inggris (anggota parlemen Andrew Smith, pendeta L. Harrys dan anggota parlemen Lembit Opik) dan bahayanya pemikiran mereka. Siapakah mereka ?

Andrews Smith

Smith

Smiths

Andrews Smith adalah anggota parlemen partai Labour dari Oxford East sampai sekarang. Andrew adalah seorang City Councillor di Blackbird Leys sebelum terpilih menjadi anggota parlemen dan mengepalai Committee hubungan rasial, pariwisata dan perencanaan local. Ia juga aktif di Amnesty Internasional khususnya HAM di China. Partainya “Labour” adalah partai demokratik sosialis. Namun partai ini sejak pertengahan 1980an, dibawah kepemimpinan Neil Kinnock, John Smith, dan Tony Blair, disebut-sebut sebagai ”Third Way” (more centrist) yang mengadopsi pasar bebas. Dan terkait hal ini, para pengamat lebih menyebutnya sebagai partai Sosial demokratik (left atau center left) atau bahkan neo-liberal. Ia menikah dengan Val dengan satu anak perempuan dan satu cucu.

Lord Harrys

Harrys

Harrys

Ia dikenal dengan aliran liberal, menentang Section 38 UU Pemerintah Lokal Inggris yang melarang mempublikasikan homoseksual. Ia dikenal sejalan dengan pendeta controversial pro-gay Jeffry John yang mendapat pertetangan keras dari seluruh dunia, mengingat bertambahnya penderita AIDS di Inggris yang diyakini karena tindakan kaum gay dan biseksual. Tentunya, jika ide mereka diterapkan di Papua, yang bersama dunia internasional justru sedang berjuang memerangi AIDS, adalah counter produktif sebab hanya akan mendukung berkembangnya penyakit AIDS tersebut.

Lembik Opik

Opik

Opik

Sedangkan Lembik Opik, lahir 2 Maret 1965 dan anggota parlemen partai Liberal Demokrat dari Montgomery Shire sejak tahun 1997, dikenal sebagai seorang flamboyan. Setelah putus dari pacarnya Sean Lloyd ia kemudian bergandengan dengan penyanyi Romania Gabriele Irimia. Sebagai seorang yang ingin mencari perhatian, ia pernah tampil di Who Wants to be Milionare dan mendapatkan US$ 64.000. Pengetahuan tentang Papua adalah sangat diragukan sebab ia lebih menekuni masalah komet dan kemungkinannya untuk menabrak bumi. Lord Harrys adalah pria kelahiran 2 Juni 1936, pensiunan bishop of Oxford (ke 41) di Church of England. Setelah pension dari tentara (perwira) ia masuk ke sekolah Selwyn Colloge, Cambrige hingga mendapat gelar master. Belakangan ia masuk kembali ke tentara. Ia menjadi anggota pendiri Abrahamic Group yang meliputi tiga agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Pada 2001 ia memperoleh gelar Doktor of the University dari Oxford Brookes University.

Sementara itu, Jeremy Corbyn adalah pria kelahiran Wiltshire, 26 Mey 1949 ini adalah aktifis partai buruh anggota parlemen Islington North. Ia juga anggota Amnesty Internasional.

 

Kenyataan terlibatnya para tokoh Inggris tersebut utamanya Pendeta Lord Harriys dalam ”International Parliementarians for West Papua” hanyalah untuk mencari popularitas mengingat idenya (Jerry John) yang tidak popular atau mendapat penolakan dari kelompok Kristen di Afrika dan Amerika Selatan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa mereka bukannya bermaksud menyelesaikan Papua, melainkan hanya akan menambah permasalahan baru. Yang menjadikan pertanyaan apakan mereka yang hadir (30 orang ) Papua memiliki ide yang sama dengan Jerry John ?

 

Refugees are Cheated by Herman Wainggai

September 25, 2008

Hana Gobay

Hana Gobay (Cen. Post Doc)

 

The issue on refugees who fled to Australia to go back to Indonesia has arisen not long after a group of 43 Papuans arrived at Cape Town on January 13, 2006.  It is known that Herman Wainggai, group’s leader, has ever denied claim that they want to return. “They want to go back is simply wrong,” Herman said.  In fact, they really want to go back to Indonesia. Let us see what Hana Gobey and Yubel Kareni did.

 

Hana Gobey who claimed to pay Rp. 7 Million to Herman Wanggai got a rumors were circulated by Herman that they would be jailed and killed once they arrived in Indonesia.  However, both guys believed the rumors are untrue.   With any efforts, Hana Gobey from Merauke and Yubel Kareni from Serui gained access to Indonesia Consulate General in Melbourne. Their willing to go home was expressed to Jahar Gultom, the consul for economic affairs.

 

Then, with the help of Australian and Indonesia government, both arrive at Mopah Airport in Merauke on a flight from Bali. “The promises Herman W.  made to us will never come true,” said Hana at Frans Kaisepo, Biak on 24 September 2008. Hana was greeted with tears and hugs by her mother Bastina Gobay. “God has answered prayers and now we are reunited after three years apart, ” a tearful Bastina said. Meanwhile, Yubel Kareni said,” I thank the Indonesia Government who had helped me to return home.    

Five Australians in Papua

September 19, 2008

 

According to Defense Minster Juwono Sudarsono after a meeting with his Australian counterpart Joel Fitzgibbon. “Our finding from the event of the Australians who flew from Queensland to Papua is that five Australians are not a threat or anything like that. “It was only a number of people looking for an opportunity to open up tourism,” he added.

 

Smart Guys from Papua

August 26, 2008

Loru Hama Esuru, a student of SMAN 1 Kaimana, Papua has an opportunity to bring a flag tray at the ceremony of lowering the flag.  Her face was full of light and happiness. “I am really happy.  It is Unimaginable,” as saying after success of doing her job at Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Sunday 17 August 2008. She acknowledged that she has been a little bit nervous for a while. But, all critical steps have been passed. Other lucky guys is Fince Yunita Maran, SMAN 1 Manokwari, Jayapura. 

Hiduplah Indonesia Raya.  

 

Yang Menarik dari Judo Papua, Indonesia

August 15, 2008

Ada kisah menarik dari olah raga Judo asal Papua. Yaitu kisah Sdr. Yonadap Wattimena adalah pejudo asal Papua Barat yang mewakili daerahnya dalam PON pada Juli lalu di Samarinda, Kalimantan. Sang atlit Yonadap Wattimena atau biasa disapa John ini sehari-harinya adalah menjabat Kepala Kantor Trantib Kota Sorong. Sementara itu, pelatihnya yang melatihnya setiap hari adalah istrinya sendiri bernama Susana AP. Wanita yang manis tersebut adalah seorang perwira menengah di Polresta Sorong. Jadi keduanya adalah pejabat penting di Papua. Selamat.

San Francisco Conference

August 7, 2008

We support a one-day event annual conference on August 16 at the Mission Bay Conference Center. Congratulations.

Red and White Flag unfluring in Papua

August 7, 2008

 

Tomorrow on 8 August the Red and White Flag will be unrolling for 1 km long at the 47th anniversary of Boy Scouts in Fakfak, Papua. The parade will start from 16 November Stadium  to reclamation beach.  It also welcome the 63rd anniversary of Indonesia Independence.    

Another agenda is rope jumping presented by Pramuka Widya Kartika supervised by Military District Command/Kodim 1706 Fakfak.

 

OPM Comes Back to NKRI

July 4, 2008

Hundreds of TPN/OPM members are ready to come back to the city and wants to be The Republic of Indonesia Citizen ( NKRI).  Their willing is positively greeted by Vice Chairman II DPR Papua Paskalis Kossy, SPd and Chairman of Laskar Merah Putih of Papua Province Nico Mauri.

“Until now they (OPM in the jungle) have been utilized by  OPM politicians who live in the city or overseas to rise fund and they miserable and it is time to come back to the city, live among society and build Indonesia together”  Nico said. Welcome back.