Archive for the ‘Flora’ Category

Understanding Papua 6 (Environment, Flora and Fauna)

March 24, 2008

Papua is one of three Major Tropical Forests in the world that has been identified by Conservancy International. Over 80% of Papua is still untouched or natural habitat. Due to the biogeography and the unique topography of Papua, the forest regions still have high levels of biodiversity. The inaccessibility of many of the natural habitats means that to this day not a lot is known about Papua’s biodiversity; Papua’s seas have not yet been fully explored either. With an increase in biological research in Papua more and more is being discovered about the biodiversity of the region. Aside from a high level of biodiversity, Papua also has many different types of ecosystems, from extensive coral reefs, mangroves, savannahs, lowland tropical forests, to mountainous and alpine areas.
The threats to the biodiversity and natural habitat of Papua are already apparent. Papua, being rich in mineral deposits and oil reserves, is very attractive to investors who aim to build large scale mines and oil fields, potentially very damaging to natural habitats. Other threats come from the growth of certain areas, such as the development of the industrial sector in Mamberamo, the expansion of palm oil plantations, the construction of the Trans-Papua highway and timber concessions.

Ubi Jalar (Petatas) dan Keladi (Kastela) makanan khas Papua yang akan Go Public

February 20, 2008

Tanaman ubijalar (petatas) dan keladi (kastela) merupakan makanan khas masyarakat pedalaman Papua dan masyarakat Papua umumnya.  Olah karenanya sangat tepat jika  Direktris Yayasan Honai Timika Ibu Anastasia Takage, SA.g  mengembangkan dua tanaman yang merupakan makanan pokok masyarakat gunung ini, sebagai tanaman yang mempunyai nilai jualannya sangat tinggi, seperti dikatakannya pada Rabu 13 Pebruari 2008. Sebagai anggota dewan, juga sebagai anak Papua pedalaman, Ibu Anastasia mengaku merasa terpanggil untuk mengembangkan dua jenis makanan pokok suku pedalaman ini menjadi makanan khas berkualitas tinggi dan disajikan pada semua momen acara besar atau kecil di daerah ini.   

 Yam vs. sweet potato

“Kehidupan masyarakat Papua terutama masyarakat pedalaman, dengan adanya modernisasi perlahan-lahan orang mulai lupa dengan makanan khas yang merupakan warisan nenek moyang ini. Bagi Yayasan Honai melihat ini sangat menarik, sehingga kedua tanaman ini perlu ada program budidaya dengan persemaian yang baik sehingga hasilnya mempunyai kualitas yang tinggi, dan sebagai makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi pula,” kata Ibu Anastasia yang juga Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kabupaten Mimika ini.Untuk membudidayakan kedua tanaman ini, Yayasan Honai bekerjasama dengan beberapa kepala kampung yang ada di beberapa Satuan Pemukiman (SP-SP). Para kepala kampung telah memberi 3 hektare lahan, yang kemudian kelompok-kelompok ibu-ibu yang ada pada kampung tersebut mengelola lahan ini sebagai kebun percontohan. Melalui kebun percontohan ini, maka ke depan lahirlah petani-petani petatas dan keladi yang secara rutin menghasilkan petatas dan keladi dalam jumlah yang begitu banyak. Petatas dan keladi yang dihasilkan oleh kelompok ibu-ibu maupun dari lahan-lahan secara pribadi itu, akan dibeli oleh Yayasan Honai yang selanjutnya akan dipasarkan keluar Timika. Informasi yang beredar, lanjut Anastasia di Nabire akan dibangun sebuah Pabrik Tepung Tapioka. 

Bila rencana tersebut terealisasi dalam beberapa tahun ke depan ini, jelas mereka akan membutuhkan stok atau pasokan singkong, keladi, petatas dari mana saja dalam jumlah yang banyak.  Selanjutnya,  Petatas dan Keladi memang tidak hanya menjadi makanan khas orang Papua yang mempunyai nilai gizi, protein, dan mineral yang tinggi, namun melengkapi referensi makanan khas Indonesia.