Archive for February 2008

Congratulation Franzalbert Joku.

February 27, 2008

Franzalbert Joku was born at Sentani Kmaung Ifar Besar on  20 February 1953. His father name was Alfius Joku (the late) and his mother names was Theresia Kabey (the late). He got married with Yetty Tukayo  an has five children.  Since 1967, a-17-year old Franzalbert Joku has joined his family to Papua New Guinea (PNG) wit the reason of security situation. He had been staying in PNG from 1975 to 1992 and working as reporter PNG Post Courier for 17 years. Then, Franzalbert Joku changed his career and worked at Prime Minister’s Office as press secretary for 1 year. He promoted to the Head of Staff. In 1997 he was busy because he worked for two Deputies of Prime Ministers as well as worked for three cabinet ministers in PNG.

In 2005-2006 before moving to Papua he got position as Chief-of-Staff in the Head office of Opposition.   In 2006 until now he is active at a Foundation what so called Independent Group Supporting Autonomous Region Of Papua Within Republic Of Indonesia (Ijssartri). Urged by the statement of Governor Papua, Barnabas Suebu. SH on September 2007 when he carried out the working visit to PNG and ask for all Papua resident returned to the Indonesia homeland, he decided to come back to Indonesia. 

 “After observing the real condition in Indonesia and the international political climate, we decided to return home forever. We believe Indonesia will be better, more democratic, free, prosperous and peaceful in the future,” he said. He believe Vice President Jusuf Kalla statement,” Jakarta gets fund from Freeport Rp 17 trillion, meanwhile Jakarta gives back financial support to Papua Rp 29 trillion or double  from that is taken from Papua.” So again it is untrue if Jakarta is only obtained money from Papua,”he added. Congratulation and Welcome back in your motherland Indonesia.

Ubi Jalar (Petatas) dan Keladi (Kastela) makanan khas Papua yang akan Go Public

February 20, 2008

Tanaman ubijalar (petatas) dan keladi (kastela) merupakan makanan khas masyarakat pedalaman Papua dan masyarakat Papua umumnya.  Olah karenanya sangat tepat jika  Direktris Yayasan Honai Timika Ibu Anastasia Takage, SA.g  mengembangkan dua tanaman yang merupakan makanan pokok masyarakat gunung ini, sebagai tanaman yang mempunyai nilai jualannya sangat tinggi, seperti dikatakannya pada Rabu 13 Pebruari 2008. Sebagai anggota dewan, juga sebagai anak Papua pedalaman, Ibu Anastasia mengaku merasa terpanggil untuk mengembangkan dua jenis makanan pokok suku pedalaman ini menjadi makanan khas berkualitas tinggi dan disajikan pada semua momen acara besar atau kecil di daerah ini.   

 Yam vs. sweet potato

“Kehidupan masyarakat Papua terutama masyarakat pedalaman, dengan adanya modernisasi perlahan-lahan orang mulai lupa dengan makanan khas yang merupakan warisan nenek moyang ini. Bagi Yayasan Honai melihat ini sangat menarik, sehingga kedua tanaman ini perlu ada program budidaya dengan persemaian yang baik sehingga hasilnya mempunyai kualitas yang tinggi, dan sebagai makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi pula,” kata Ibu Anastasia yang juga Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kabupaten Mimika ini.Untuk membudidayakan kedua tanaman ini, Yayasan Honai bekerjasama dengan beberapa kepala kampung yang ada di beberapa Satuan Pemukiman (SP-SP). Para kepala kampung telah memberi 3 hektare lahan, yang kemudian kelompok-kelompok ibu-ibu yang ada pada kampung tersebut mengelola lahan ini sebagai kebun percontohan. Melalui kebun percontohan ini, maka ke depan lahirlah petani-petani petatas dan keladi yang secara rutin menghasilkan petatas dan keladi dalam jumlah yang begitu banyak. Petatas dan keladi yang dihasilkan oleh kelompok ibu-ibu maupun dari lahan-lahan secara pribadi itu, akan dibeli oleh Yayasan Honai yang selanjutnya akan dipasarkan keluar Timika. Informasi yang beredar, lanjut Anastasia di Nabire akan dibangun sebuah Pabrik Tepung Tapioka. 

Bila rencana tersebut terealisasi dalam beberapa tahun ke depan ini, jelas mereka akan membutuhkan stok atau pasokan singkong, keladi, petatas dari mana saja dalam jumlah yang banyak.  Selanjutnya,  Petatas dan Keladi memang tidak hanya menjadi makanan khas orang Papua yang mempunyai nilai gizi, protein, dan mineral yang tinggi, namun melengkapi referensi makanan khas Indonesia.

Kunjungan Wapres Jusuf Kalla ke Papua

February 19, 2008

Jayapura.WPP. Pada Jum’at, 15 Februari 2008 Wakil Presiden H Muhammad Jusuf Kalla tiba di Jayapura. “Dukungan rakyat Papua sangat kondusif,” ujar Dansatgas pengamanan VVIP Kolonel Kav Burhanuddin Siagian yang juga Danrem 172/PWY. Ini tentunya menjadi bukti bahwa rakyat Papua menginginkan pembangunan berkelanjutan.

Wapres dan rombongannya tiba di Bandar Udara Sentani sekitar pukul 15.45 WIT dengan pesawat kepresidenan RJ-85 setelah terbang dari Kendari Sulawesi Tenggara. Di Bandara Udara Sentani, Wapres Jusuf Kalla disambut oleh Gubernur Barnabas Suebu, SH, Gubernur Papua Barat Bram O Aturui, Ketua DPR Papua Drs John Ibo, MM, Ketua DPR Papua Barat Demianus Idjie, Ketua MRP Agus Alua, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjend TNI Haryadi Soetanto, Kapolda Irjend Pol Drs Max Donald Aer dan sejumlah pejabat lainnya.Terlihat dalam rombongan Wapres diantaranya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS Pazkah Suzeta, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto dan lain-lain. Terlihat juga Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Menteri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Fredy Numberi yang sudah tiba sejak Kamis lalu.

Setibanya di Bandara Sentani, Wapres Jusuf Kalla langsung istirahat sejenak di ruang tunggu VIP selama kurang lebih 10 menit dan selanjutnya masuk ke mobil kepresidenan yang platnya bertuliskan Indonesia 2 lengkap dengan Bendera Merah Putih. Di mobil tersebut, Wapres didampingi Gubernur Suebu hingga sampai ke Swissbel Hotel Ruko Dok II Jayapura.Sepanjang jalan yang dilalui oleh rombongan Wapres, semuanya berjalan lancar, termasuk cuaca yang bersahabat. Bahkan di sejumlah tempat dipinggir jalan dari Sentani hingga Jayapura terlihat warga yang menyambut rombongan Wapres di tepi-tepi jalan ingin menyaksikan Wapresnya dari dekat. Di SwissbelHotel, Wapres disambut oleh Walikota Jayapura Drs Menase Robert Kambu dan sejumlah pejabat lainnya.  

Anggrek Kribo (Dendrobium Spectabile)

February 15, 2008

Anggrek Kribo Papua

Jakarta. WPP. Bunga Anggrek Kribo (Dendrobium spectabile) is a warm growing species native to Papua, New Guinea and the Solomon Islands. This flower is also used for Universitas Negeri Papua Symbol together with Kupu Sayap Burung (Ornithoptera sp). The 18 inch to 2 foot long canes produce masses of flowers that look like aliens from another world. This plant typically flowers in the winter and early spring months but can also flower in late August through October. Each flower spike can produce 10 – 20 three inch flowers colored in cream, tan, mahogany, purple, and green. The flowers last a couple of and have a nice honey-like fragrance. There are many other orchids growing in Papua such as Anggrek Macan (Grammatophyllum Sp.), Anggrek Merpati (Dendrobium Lineale), Anggrek Emas (Dendrobium Conanthum) and so on. This long lasting which have a honey like scent is usually sold as high as $ 100. (V10)

Fakfak and Jayapura, West Papua

February 13, 2008

PT. In the book of Nagara-Kertagama writen by Rakawi Prapanca of Majapahit, during the rule of King Hayam Wuruk, in 1365 A.D,  it was mentioned that West Papua was belong to Majapahit Kingdom territory. As mentioned in one of its paragraphs that “Muwah tikhan i wandan, ambwan (Ambon) athawa maloko wwanin (Fakfak)” were claimed as the sovereign territory of the kingdom of Majapahit.  

Fakfak  was likely to be the city center due to its strategic location, such as close to Mollucas.  Since the fall of Majapahit 1478, Nusantara has not well organized and in about 1898 the Dutch began serious exploration.  During Ducth Colonialization, Jayapura City had been chosen to be a Defense Post of Dutch Army in Pacific area. The Dutch government was assigned P.  Windhower at Debi Island, a little island in Yotefa Bay in 1908.  In 1912 the post was moved to a mouth of Numbai river, which is a small river that is mouthed in Yos Yudarso Bay. In a formal ceremony, this mouth of Numbai river then named Hollandia on March 7, 1910. The date was then decided to be the birth date of Jayapura. The status of Hollandia City which was a district had become the government Provincial City. Some of the events happened after that moment were the name of Hollandia was changed into Kotabaru (New City), then Sukarnopura and finally Jayapura. However, West Papua is still Indonesia’s “wild east”. Much of it was still unexplored by outsiders in the 1930s. Allied (American and Australian) forces passed through here in 1944 on the way to the reconquest of the Philippines.

After the Indonesians defeated the Dutch in 1949 and 1950, the Dutch insisted on keeping Irian Jaya (West Papua). They finally gave up the colony in 1963, under a combination of military and diplomatic pressure. In 1969, a UN-sponsored referendum led to Irian Jaya becoming a province of Indonesia. The vast development forced the Region Government to split Jayapura to two districts: North Jayapura and South Jayapura. In 1988, Jayapura was become Administrative City and then in 1993 became Jayapura madya City. Lately, with the Act of Region Government number 22 year 1999, it was then becoming Jayapura City. (Lt) 

Don’t Miss Lake Sentani Festival 2008

February 12, 2008

The Papua Tourism Office (PTO) is going to hold the Lake Sentani Festival on July 16-19 to support the annual Lembah Baliem Festival in Jayawijaya District in August, 2008. 

Lake Sentani

 

“The Lake Sentani Festival will be held as an effort to protect the culture of the Jayapura District, mainly in the Sentani Lake area,” Head of the PTO Elly Weror said in a statement on 2 February 2008. It means there will be two festivals which not only design to ease tourists wishing to enjoy the festivities but also intended to prolong their stays in the province. Previously, there were only three big cultural festivals, namely the cultural festival of Lembah Baliem, that of Asmat and that of Kamoro. PTO was likewise trying to realize the Cendrawasih Bay Festival.Besides holding the cultural events, the province has been reorganizing the tourist sites in the area, including the Holtekam Beach located some 60 kms from Jayapura.

Program Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua 2008

February 12, 2008

Papua, WPP. Salah satu program kerja tahun 2008 Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua adalah lebih fokus untuk mengembangkan perekonomian masyarakat di kampung, di sekitar danau seperti pembudidayaan air tawar. Adapun bentuknya berupa penyiapan proyek semi swadaya di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. Kegiatan tersebut berupa pengembangan keramba di Danau Sentani, diikuti dengan penyerahan bantuan jaring, pakan dan bibit sebanyak 185 unit. “Terkait hal tersebut adalah berupa pembuatan karamba di danau yang nantinya akan disiapkan dan dipotong sendiri oleh masyarakat,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua, Ir. Astiler Maharadja waktu itu. Ditambahkannya, masih ada sejumlah kegiatan yang difokuskan di kampung, yang diantaranya mengembangkan pembudidayaan masyarakat melalui kolam rakyat diwilayah pegunungan dan budidaya laut diwilayah pesisir. Sebagian besar program yang langsung ke masyarakat itu, sudah berjalan beberapa tahun yang lalu.

Sementara itu, mendukung penangkapan ikan secara berkelanjutan, DKP membentuk Badan Pengelola Sumber Daya Ikan Laut Arafura, badan pertama di lingkungan DKP dengan tugas khusus mengelola kawasan laut. DKP membatasi penangkapan ikan di Laut Arafura di awal tahun 2008 ini agar potensi tangkap lestarinya tidak habis seperti di Laut Korea dan Jepang. “Kami segera umumkan bulan-bulan penutupan penangkapan yaitu pada bulan-bulan musim ikan bertelur,” kata Ir. Astiler Maharadja, dalam satu kesempatan. Menurutnya, survei Balai Riset Perikanan Laut DKP Tahun 2007 menunjukkan kecenderungan laju tangkap trawl, yakni hasil tangkapan ikan 458 kg per jam (2002), 589 kg per jam (2003), kemudian 302 kg per jam (2006). Sehingga penghentian penangkapan merupakan salah satu cara untuk mengembalikan sumber daya ikan. Sedangkan, cara lain yang direncanakan adalah tidak lagi memperpanjang izin penangkapan ikan di Laut Arafura.

Menurut data DKP Tahun 2006, di Laut Arafura terdapat 318 pukat udang, yakni berbobot di bawah 50 ton dan 200 ton lebih. Untuk pukat ikan terdata 748 kapal yang berbobot seperti itu. Sejak 16 Juli 2007, di seluruh perairan Indonesia, termasuk di Laut Arafura yang menjadi kawasan tangkapan atau fishing ground kapal ikan asing, tidak ada satu pun kapal ikan asing yang diizinkan beroperasi. Pencabutan larangan bagi kapal ikan asing untuk menangkap ikan paling cepat dilakukan awal Januari 2008. Dilain pihak, untuk mendukung larangan penangkapan, konsumen akan dilarang membeli ikan asal Laut Arafura dalam waktu yang ditentukan DKP. Penutupan penangkapan di suatu kawasan laut biasa dilakukan di Luar Negeri. Pasifik, Hindia, bahkan lebih dulu diberlakukan pengaturan tentang kuota dan waktu penangkapan.

Uncovering Free West Papua Action in South Pasific Countries

February 1, 2008

“NKRI is non-negotiable and final,” Asmat Tribe Leaders said.

February 1, 2008

Jakarta, WPP. “Asmat tribe opposes separatism in West Papua and they hope that Asmat land, Papua land, Indonesian land become land of peace for all creatures, “Ketua Lembaga Musyawarah Adat Asmat or LMAA Yuvensius A Diakai, BA said in a press conference  announcing a new Asmat regent vision in Jakarta on 31 January 2008.

I am Asmat, Papua

  

             I am Indonesian. 

He added “Asmat tribe is a part of the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI) and oppose the existing separatism in Papua,”.  Moreover, Vice Chairman of LMAA Amandus Anakai stated that motto “Ja Asmanam Apcamar” (walking with full balance) elaborates Asmat regent vision is to build Asmat based on the Asmat culture pillar. He also added that NKRI is non-negotiable and final.

West Papua Monitor

February 1, 2008

WPP, 1 Februari 2008. Upaya gerakan papua merdeka untuk menarik simpati massa sekaligus untuk raising fund tampaknya belu berhenti. Hal ini terungkap dari dua wanita Jayapura, Papua Barat yang ditemukan sedang membuat tas dan selanjutnya menjualnya. Pada 17 Januari 2008 polisi mendapati dua wanita tersebut masing-masing bernama Yohana Pekei dan Nelly Pigome.  Mereka  membuat noken/yum (tas Papua berlambang bintang) dan menjualnya dengan alasan untuk mendapatkan beberapa peni (rupiah) guna menunjang kehidupan keluarga mereka. Sejauh ini belum didapatkan informasi lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Sementara itu, proposal Perdana Menteri PNG Michael Sumare untuk memperlunak larangan-larangan di perbatasan antara Indoensia- PNG mendapat sambutan dari Father Neles Tebay, seorang pemimpin gereja Diosis Katolik Jayapura. Ia mengatakan orang papau sepatutnya bergerak secara bebas melewati tapal batas karena mereka adalah sama-sama orang Melanesia. Permintaan Michael Somare tersebut disampaikan kepada Presiden Indonesia Susilo Yudhoyono pada konferensi ‘climate change’ di Bali. Father Neles juga meminta pengurangan jumlah tentara di wilayah perbatasan dengan alasan kehadiran mereka menyebabkan rasa takut dan akibatnya orang tidak bergerak dengan bebas.

Adapun di Inggris,  pada 10 Januari 2008 segelintir aktifis Free West Papua Campaign mengundang masyarakat Oxofod untuk menyamput tahun baru.  Dalam kesempatan itu, Benny Wenda mengucapkan terimakasih kepada Walikota Oxford yang telah mengijinkan pengibaran Bintang Kejora selama 4 hari di Kantornya.