Archive for the ‘Campaign’ Category

Thank the Dutch government

February 8, 2010

Papua is selected as one of five regions in Indonesia as the location of the renewable energy project.  The other provinces are covering North Sumatra, Central Java, Yogyakarta and West Nusa Tenggara (NTB).

Thank  Casindo coordinator, Nico van der Linden who said that Papua with its special autonomy status should be able to develop its renewable energy potentials and formulate the regional energy policy while economizing energy measures.

Cenderawasih University has been chosen to implement a work program and make coordination with related parties, said Nico, who is also a researcher at the Netherlands Energy Research Center (ECN).

The Support for the Pair of SBY-Boediono in West Papua

June 29, 2009

The regional campaign teams for the pair of SBY-Boediono on the West Papua Province was declared Wednesday night June 10, 2009 at Gedung Wanita, Manukwari. The pairing of Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono are supported by 24 political parties. The composition of the teams are among other a chairman Robby Nauw (Democratic Party), a vice of chairman Yan Arwam (PKB), secretary Rahman Sinamur (PAN), treasury Mugiono (PKS). The representative of coordinator IX Timkanas Michael Watimena was also appointed. Whereas, Timkada of Manokwari Regency is chaired by Sius Dowansiba inaguratd on June 2009 at Abresso restaurant.

International Parliamentarians for West Papua, Membongkar Jaringan London

October 30, 2008

 

Berdasarkan investigasi, aksi segelintir kelompok ektrim pimpinan Benny Wenda telah mengadakan kegiatan di London dengan tema ”International Parliamentarians for West Papua” (IPWP) pada 15 Oktober 2008. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 3 anggota Parlemen Inggris, 1 anggota Parlemen Papua New Guinea (PNG), 1 anggota Parlemen Vanuatu dan 30 simpatisan separatis. Kegiatan yang tidak didaftarkan tersebut (kegiatan non formal), disebutnya sebagai gerakan internasional, sama sekali tidak menarik perhatian publik. Para annggota parlemen yang menghadiri kegiatan tersebut tentunya mereka yang masih menutup mata dengan perkembangan demokrasi di Indonesia dan perkembangan otonomi khusus yang sudah diterima luas oleh masyarakat Papua.

WPP kali ini menurunkan hasil investigasi dari mereka-mereka yang hadir utamanya dari Inggris (anggota parlemen Andrew Smith, pendeta L. Harrys dan anggota parlemen Lembit Opik) dan bahayanya pemikiran mereka. Siapakah mereka ?

Andrews Smith

Smith

Smiths

Andrews Smith adalah anggota parlemen partai Labour dari Oxford East sampai sekarang. Andrew adalah seorang City Councillor di Blackbird Leys sebelum terpilih menjadi anggota parlemen dan mengepalai Committee hubungan rasial, pariwisata dan perencanaan local. Ia juga aktif di Amnesty Internasional khususnya HAM di China. Partainya “Labour” adalah partai demokratik sosialis. Namun partai ini sejak pertengahan 1980an, dibawah kepemimpinan Neil Kinnock, John Smith, dan Tony Blair, disebut-sebut sebagai ”Third Way” (more centrist) yang mengadopsi pasar bebas. Dan terkait hal ini, para pengamat lebih menyebutnya sebagai partai Sosial demokratik (left atau center left) atau bahkan neo-liberal. Ia menikah dengan Val dengan satu anak perempuan dan satu cucu.

Lord Harrys

Harrys

Harrys

Ia dikenal dengan aliran liberal, menentang Section 38 UU Pemerintah Lokal Inggris yang melarang mempublikasikan homoseksual. Ia dikenal sejalan dengan pendeta controversial pro-gay Jeffry John yang mendapat pertetangan keras dari seluruh dunia, mengingat bertambahnya penderita AIDS di Inggris yang diyakini karena tindakan kaum gay dan biseksual. Tentunya, jika ide mereka diterapkan di Papua, yang bersama dunia internasional justru sedang berjuang memerangi AIDS, adalah counter produktif sebab hanya akan mendukung berkembangnya penyakit AIDS tersebut.

Lembik Opik

Opik

Opik

Sedangkan Lembik Opik, lahir 2 Maret 1965 dan anggota parlemen partai Liberal Demokrat dari Montgomery Shire sejak tahun 1997, dikenal sebagai seorang flamboyan. Setelah putus dari pacarnya Sean Lloyd ia kemudian bergandengan dengan penyanyi Romania Gabriele Irimia. Sebagai seorang yang ingin mencari perhatian, ia pernah tampil di Who Wants to be Milionare dan mendapatkan US$ 64.000. Pengetahuan tentang Papua adalah sangat diragukan sebab ia lebih menekuni masalah komet dan kemungkinannya untuk menabrak bumi. Lord Harrys adalah pria kelahiran 2 Juni 1936, pensiunan bishop of Oxford (ke 41) di Church of England. Setelah pension dari tentara (perwira) ia masuk ke sekolah Selwyn Colloge, Cambrige hingga mendapat gelar master. Belakangan ia masuk kembali ke tentara. Ia menjadi anggota pendiri Abrahamic Group yang meliputi tiga agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Pada 2001 ia memperoleh gelar Doktor of the University dari Oxford Brookes University.

Sementara itu, Jeremy Corbyn adalah pria kelahiran Wiltshire, 26 Mey 1949 ini adalah aktifis partai buruh anggota parlemen Islington North. Ia juga anggota Amnesty Internasional.

 

Kenyataan terlibatnya para tokoh Inggris tersebut utamanya Pendeta Lord Harriys dalam ”International Parliementarians for West Papua” hanyalah untuk mencari popularitas mengingat idenya (Jerry John) yang tidak popular atau mendapat penolakan dari kelompok Kristen di Afrika dan Amerika Selatan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa mereka bukannya bermaksud menyelesaikan Papua, melainkan hanya akan menambah permasalahan baru. Yang menjadikan pertanyaan apakan mereka yang hadir (30 orang ) Papua memiliki ide yang sama dengan Jerry John ?

 

Herman Wainggai is a Dictator ?

September 26, 2008

 

Herman Wanggai (ABCTV doc)

Herman Wanggai (ABCTV doc)

In a SIMPA letter entitled “Two Indonesian citizens returned to Indonesia!” dated September 23 2008 20:02:10 -0700, Herman threatened the safety both of them and stated that both people are the enemy of free Papua movement. He added, “Congratulation on Your Betrayal”.

 

In this case, the government of the Republic of Indonesia and Australia should protect the safety of both people. Anybody has right to choose their life. Based on Papuan perception, both Gobay and Yubel inspire everyone with confidence.   

 

Refugees are Cheated by Herman Wainggai

September 25, 2008

Hana Gobay

Hana Gobay (Cen. Post Doc)

 

The issue on refugees who fled to Australia to go back to Indonesia has arisen not long after a group of 43 Papuans arrived at Cape Town on January 13, 2006.  It is known that Herman Wainggai, group’s leader, has ever denied claim that they want to return. “They want to go back is simply wrong,” Herman said.  In fact, they really want to go back to Indonesia. Let us see what Hana Gobey and Yubel Kareni did.

 

Hana Gobey who claimed to pay Rp. 7 Million to Herman Wanggai got a rumors were circulated by Herman that they would be jailed and killed once they arrived in Indonesia.  However, both guys believed the rumors are untrue.   With any efforts, Hana Gobey from Merauke and Yubel Kareni from Serui gained access to Indonesia Consulate General in Melbourne. Their willing to go home was expressed to Jahar Gultom, the consul for economic affairs.

 

Then, with the help of Australian and Indonesia government, both arrive at Mopah Airport in Merauke on a flight from Bali. “The promises Herman W.  made to us will never come true,” said Hana at Frans Kaisepo, Biak on 24 September 2008. Hana was greeted with tears and hugs by her mother Bastina Gobay. “God has answered prayers and now we are reunited after three years apart, ” a tearful Bastina said. Meanwhile, Yubel Kareni said,” I thank the Indonesia Government who had helped me to return home.    

Perjuangan Merah Putih Monument

September 23, 2008

Tubir Seram island

Tubir Seram island

Perjuangan Merah Putih Monument is  erected at Tubir Seram island. Tubir Seram island is well known as an amazing and beautiful natural scenery. Located in front of Fak-Fak town, this island is popular with a garden full of many colorful flowers and many types of plants.  Another place that can be visited is  a mini museum  which built to save artifact of historical values. To get there, it takes only five minutes from Fak-Fak town by boat.

Jangan Ganggu Kami

September 23, 2008

Jangan tembaki kami

Jangan buru kami

Jangan tangkap kami

 

Biarkan Bulu Indah warna-warni

Menghiasi Bumi Pertiwi

Banggalah dengan Kehadiran Kami si Burung Surga ini

Berhias Kuning, Hijau, dan Coklat

Menyelimuti Diri

Demikian juga dengan Dara Mahkota

Atau Mambruk kata Mereka

Berhias Biru, Putih dan Abu-abu

Bermahkota Setiap hari

Ingin Hidup Ribuan Tahun lagi

 

Jangan hanya puas tonton kami di Kebun Binatang

Selamatkan pula Kami di Papua tempat kami berasal

Jikalau engkau membunuhku

Tentu Anak-anakmu tak akan melihatku Lagi

Selain hanya di Kertas dan Movie

 

Kamipun ingin hidup seperti dirimu

Terbang Bebas di Alam Hijau Indonesia Ini

 

Cegahlah kami dari Kepunahan

Lindungi Kami dari Kejahatan

Biarkan Anak-cucumu Senantiasa Bersama Kita

Turut Amankan Kami dari Gangguan

 

Hingga Terus Terbang Bebas Menghiasi Langit

Menikmati Keindahan Alam Indonesia Kita

Sepanjang Masa

Red and White Flag unfluring in Papua

August 7, 2008

 

Tomorrow on 8 August the Red and White Flag will be unrolling for 1 km long at the 47th anniversary of Boy Scouts in Fakfak, Papua. The parade will start from 16 November Stadium  to reclamation beach.  It also welcome the 63rd anniversary of Indonesia Independence.    

Another agenda is rope jumping presented by Pramuka Widya Kartika supervised by Military District Command/Kodim 1706 Fakfak.

 

OPM Comes Back to NKRI

July 4, 2008

Hundreds of TPN/OPM members are ready to come back to the city and wants to be The Republic of Indonesia Citizen ( NKRI).  Their willing is positively greeted by Vice Chairman II DPR Papua Paskalis Kossy, SPd and Chairman of Laskar Merah Putih of Papua Province Nico Mauri.

“Until now they (OPM in the jungle) have been utilized by  OPM politicians who live in the city or overseas to rise fund and they miserable and it is time to come back to the city, live among society and build Indonesia together”  Nico said. Welcome back.

Pesan Kebangkitan Deddy Miswar juga untuk Pemuda-pemudi Papua

May 28, 2008

Bangkit itu takut
takut untuk korupsi dan mengambil
apa yang bukan haknya
Bangkit itu mencuri
mencuri perhatian dunia
dengan prestasi kita

Bangkit itu malu
malu menjadi benalu
malu minta meluluBangkit itu tidak ada
tidak ada kata menyerah

Bangkit itu aku
untuk indonesiaku

 

  

* Deddy Mizwar on a television