Archive for the ‘Preserve’ Category

Happy 99th Anniversary of Jayapura

March 6, 2009

Happy Annyversary

On March 7, 2009 Jayapura City will celebrate its  99th  anniversary.  In relation to this matter,  Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) of Jayapura City carries out the control beginning with monitoring towards the cleanliness of the good environment such as housing and  office complex including prohibiting resident to stake out laundry on the clotheslines at the edge of the road.  Head if Trantib Section, Drs Otniel Meraudje, MM asks resident to pay attention to the problem of the cleanliness of the environment,  such as painting the fence, cleaning the water channel and their residence environment.

Happy Anniversary.

Anggrek Kribo (Dendrobium Spectabile)

February 15, 2008

Anggrek Kribo Papua

Jakarta. WPP. Bunga Anggrek Kribo (Dendrobium spectabile) is a warm growing species native to Papua, New Guinea and the Solomon Islands. This flower is also used for Universitas Negeri Papua Symbol together with Kupu Sayap Burung (Ornithoptera sp). The 18 inch to 2 foot long canes produce masses of flowers that look like aliens from another world. This plant typically flowers in the winter and early spring months but can also flower in late August through October. Each flower spike can produce 10 – 20 three inch flowers colored in cream, tan, mahogany, purple, and green. The flowers last a couple of and have a nice honey-like fragrance. There are many other orchids growing in Papua such as Anggrek Macan (Grammatophyllum Sp.), Anggrek Merpati (Dendrobium Lineale), Anggrek Emas (Dendrobium Conanthum) and so on. This long lasting which have a honey like scent is usually sold as high as $ 100. (V10)

Program Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua 2008

February 12, 2008

Papua, WPP. Salah satu program kerja tahun 2008 Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua adalah lebih fokus untuk mengembangkan perekonomian masyarakat di kampung, di sekitar danau seperti pembudidayaan air tawar. Adapun bentuknya berupa penyiapan proyek semi swadaya di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. Kegiatan tersebut berupa pengembangan keramba di Danau Sentani, diikuti dengan penyerahan bantuan jaring, pakan dan bibit sebanyak 185 unit. “Terkait hal tersebut adalah berupa pembuatan karamba di danau yang nantinya akan disiapkan dan dipotong sendiri oleh masyarakat,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua, Ir. Astiler Maharadja waktu itu. Ditambahkannya, masih ada sejumlah kegiatan yang difokuskan di kampung, yang diantaranya mengembangkan pembudidayaan masyarakat melalui kolam rakyat diwilayah pegunungan dan budidaya laut diwilayah pesisir. Sebagian besar program yang langsung ke masyarakat itu, sudah berjalan beberapa tahun yang lalu.

Sementara itu, mendukung penangkapan ikan secara berkelanjutan, DKP membentuk Badan Pengelola Sumber Daya Ikan Laut Arafura, badan pertama di lingkungan DKP dengan tugas khusus mengelola kawasan laut. DKP membatasi penangkapan ikan di Laut Arafura di awal tahun 2008 ini agar potensi tangkap lestarinya tidak habis seperti di Laut Korea dan Jepang. “Kami segera umumkan bulan-bulan penutupan penangkapan yaitu pada bulan-bulan musim ikan bertelur,” kata Ir. Astiler Maharadja, dalam satu kesempatan. Menurutnya, survei Balai Riset Perikanan Laut DKP Tahun 2007 menunjukkan kecenderungan laju tangkap trawl, yakni hasil tangkapan ikan 458 kg per jam (2002), 589 kg per jam (2003), kemudian 302 kg per jam (2006). Sehingga penghentian penangkapan merupakan salah satu cara untuk mengembalikan sumber daya ikan. Sedangkan, cara lain yang direncanakan adalah tidak lagi memperpanjang izin penangkapan ikan di Laut Arafura.

Menurut data DKP Tahun 2006, di Laut Arafura terdapat 318 pukat udang, yakni berbobot di bawah 50 ton dan 200 ton lebih. Untuk pukat ikan terdata 748 kapal yang berbobot seperti itu. Sejak 16 Juli 2007, di seluruh perairan Indonesia, termasuk di Laut Arafura yang menjadi kawasan tangkapan atau fishing ground kapal ikan asing, tidak ada satu pun kapal ikan asing yang diizinkan beroperasi. Pencabutan larangan bagi kapal ikan asing untuk menangkap ikan paling cepat dilakukan awal Januari 2008. Dilain pihak, untuk mendukung larangan penangkapan, konsumen akan dilarang membeli ikan asal Laut Arafura dalam waktu yang ditentukan DKP. Penutupan penangkapan di suatu kawasan laut biasa dilakukan di Luar Negeri. Pasifik, Hindia, bahkan lebih dulu diberlakukan pengaturan tentang kuota dan waktu penangkapan.