Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Pengangkatan 144 CPNS di Papua

December 17, 2008

Sebanyak 144 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan pemerintah Kabupaten Jayawijaya, pada Selasa 15 Desember 2008 menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil untuk formasi 2007 di kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Jayawijaya,” Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Jayawijaya, Drs. Ismail Rumbiak menjelaskan.

Advertisements

Penandatanganan MoU antara UNIPA dengan WWF

December 17, 2008

Universitas Negeri Papua (UNIPA) dan World Wildlife Fund (WWF) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk kerjasama bidang penelitian dan pengembangan (Litbang ) serta pengelolaan sumberdaya alam. Penandatangan MoU itu dilakukan Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Dr. Mubariq Ahmad dan Rektor UNIPA, Ir. Yan Pieter Karafir, MEc di Kampus UNIPA,Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat, Jumat (12/12)
Turut hadir pada kesempatan itu, kepala-kepala dinas terkait di Propinsi Papua Barat, Kepala Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih, para Pembantu Rektor dan Dekan Universitas Negeri Papua dan Direktur WWF-Indonesia Region Sahul.
WWF-Indonesia mulai bekerja di Indonesia pada awal 1960-an melakukan penelitian pada spesies mamalia, khususnya badak dan harimau di Jawa dan Sumatera yang terancam punah. Kegiatan ini kemudian berkembang menjadi upaya konservasi hutan habitat satwa-satwa tersebut. Pada April 1998, berubah menjadi WWF-Indonesia; organisasi nasional Indonesia dengan bentuk yayasan.
WWF-Indonesia merupakan bagian independen dari jaringan global WWF dan afiliasinya yang bekerja di 110 negara di dunia. Kantor sekretariat WWF-Indonesia memimpin dan mengoordinasi 23 kantor lapangan dengan lebih dari 300 staf. Upaya konservasi WWF-Indonesia saat ini dilakukan di kawasan-kawasan lindung di 16 propinsi di Indonesia
Sedangkan UNIPA merupakan pengembangan dari Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih yang disahkan pada 03 Nopember 2000 dengan keputusan Presiden RI No. 153 Tahun 2000 dan diresmikan oleh DirJen Pendidikan Tinggi pada 28 Juli 2001.
Kampus Utama Universitas Papua terletak di Manokwari dan lokasi lainnya terletak di Sorong dan Paniai. Universitas Negeri Papua adalah universitas negeri kedua di Tanah Papua dan memiliki 6 fakutas, 4 pusat studi dan lembaga pengabdian pada masyarakat.

Development of Sarmy Regency

December 9, 2008

This year, Jayapura – Sarmi can be reached through land transportation after 4 bridges at Biri, Toarin, Dier and Toor river connecting the two regencies are finished to be built. Up to now, two regencies can only be reached trough sea and air services. Besides, transportation Sarmi regency is also focusing on development of 1000 houses both for public and civil servants . In 2007, the government has built 400 houses, and in 2008 built 600 houses as well as some schools and health facilities.

The capital city of Sarmi regency is Sarmi. Sarmy regency has an area of 35.587 km2 divided into 8 districts.

Sarmi Map

Sarmi Map

Unwanted Incident at Wamena

August 11, 2008

CendrawasihPostDoc

Two perpetrators (AW and AH) make use of the International Day of the World’s Indigenous People  by flying several flags beside Red and White flag in Sinapuk public square at Wamena on Saturday, August 9 2008. In this opportunity, one of the residents named Otinus Tabuni was shot dead by unknown person.  Related to this incident, several public figures and the head of ethnic groups such as  Baliem Valley leaders have criticized the celebration resulting in fatality.  

One of its representatives stated that,” We,  public figures and heads of Papuan groups, are NKRI’s supporters and asked apparatus to carry out the process of law enforcement to the perpetrators and Papuan Traditional/Tribal Council (DAP) as well as their executive’s committee, because they were thought to be responsible towards an accident.  The similar statement also revealed by the General Secretary of the Papuan Tribal Council (DAP) Leo Imbiri that,  his side really regretted the incident.  All Papuan leaders and people believe  NKRI is non-negotiable and final and any efforts and views which are contrary to it are absolutely wrong. 

Casualty’s body of  Opinus Tabuni was still on the autopsy done by dr. Edward and dr. Reyal from RSUD Wamena,  and law enforcement was carried out by police by investigating nine people, committee and West Papua Interest Asociation (WPIA).  “On behalf of Papua polices, we express our condolences on the death of Otinus Tabuni from Piramid village, Distrik Asologaima,” Papuan Regional Police Chief  Bagus Ekodanto as saying.

 

 

(Indonesia version)

Kejadian yang Tak Diiginkan di Wamena

 

Dua orang perusuh (belakangan diketahui AW dan AH)  telah memanfaatkan hari internasional pribumi sedunia dengan mengibarkan sejumlah bendera di samping bendera Merah Putih di lapangan Sinapuk Wamena pada Sabtu, 9 Agustus 2008.  Dalam kesempatan tersebut, salah satu warga bernama Otinus Tabuni tertembak oleh orang tak dikenal.  Terkait kejadian tersebut,  sejumlah tokoh masyarakat dan kepala suku yang ada di Lembah Baliem mengecam keras perayaan hari internasional pribumi se dunia yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa.

Salah seorang wakil mengatakan,”Para tokoh masyarakat dan kepala suku selaku pendukung NKRI minta kepada aparat untuk melakukan proses penegakan hukum kepada para pelaku dan pengurus Dewan Adat Papua (DAP) serta panitia pelaksana (panpel), karena mereka dinilai bertanggungjawab terhadap perayaan tsb, dan kita akan laksanakan itu,”. Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Umum Dewan Adat Papua (DAP), Leo Imbiri bahwa, pihaknya sangat menyayangkan peristiwa pengibaran bendera bintang kejora pada perayaan hari internasional bangsa pribumi se dunia tersebut. Semua pemimpin Papua dan rakyatnya percaya NKRI adalah harga mati dan tidak dapat dibantah, dan setiap upaya dan pandangan yang bertentangan dengannya adalah salah.

Jenazah korban Opinus Tabuni masih dilakukan otopsi dr. Edward dan dr. Reyal dari RSUD Wamena. Penegakan hukum telah dilakukan oleh polisi dengan memeriksa 9 orang, panitia dan para pengurus West Papua Interest Asociation (WPIA). “Yang paling utama atas nama jajaran kepolisian di Papua, kami ikut bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya salah seorang warga masyarakat bernama Otinus Tabuni dari kampung Piramid, Distrik Asologaima yang hadir dalam perayaan tersebut,”tambah Kapolda  Papua Bagus Ekodanto.

 

 

 

Visit Indonesia Year 2008, Celebrating 100 Years of National’s Awakening

May 18, 2008

Papua and West Papua province may have the richest wildlife and concentration of plant life in all of Indonesia, or perhaps the world. No other islands in the archipelago can match its various kind of Birds of Paradise, Parrot families, pigeons and Flightless Cassowary.
We are also home of 150 species of lizards, 30,000 species of beetles, 200 frogs and 800 spiders. A high percentage of the island’s 100 snake species are poisonous, including all 17 species of sea snakes.

We altogether have some 2,700 species of orchids found in Papua Province, 600 species that are medicinal importance and over 124 endemic genera. The lush vegetation of the province is in fact a deceptive cover over poor soils badly leached by heavy rain and containing no rich volcanic materials. Mangroves and Nipah Palms ensnare the brackish estuaries of the coast.
Everything is cheap in Jayapura. A taxi costs between Rp 20,000 to Rp 30,000 (K6-K9) per hour to hire. A local bus fare is only RP600 (K0.20t). A cheap hotel room is Rp 80,000 (K25) per night and a room in the best luxury hotel is only Rp 320,000 (K100). Shopping for manufactured goods and handicrafts is very cheap. Market vegetables and fruits are fresh and cheap. Food from roadside stalls is clean and cheap.

Therefore, don’t forget to visit Papua.

Hari Keutuhan Nasional : Peringatan ke-45 Kembalinya Irian Barat (Papua) ke NKRI.

May 2, 2008

Antusias masyarakat Papua (Papua dan West Papua) untuk memperingati hari kembalinya Irian Barat pada 1 Mei 2008 terlihat sangat besar sekali. Sejak dua pekan lalu  gema kegiatannya sudah terlihat, seperti lomba gerak jalan yang telah diikuti oleh ribuan peserta dari semua kalangan.  Memang peringatan kembalinya Irian Barat (Papua)  kali ini yang akan dilaksanakan pada 3 Mei di Lapangan Mandala adalah yang pertama kalinya diselanggarakan secara besar-besaran.  Penundaan hingga 2 hari dari tanggal yang semestinya dikarenakan pada 1 Mei bertepatan dengan hari buruh dan hari libur kenaikan Isa Almasih dan  pada 2 Mei bersamaan dengan libur cuti.  

Kegiatan lain juga bakal menyemarakkan momen tersebut adalah pesta rakyat di Danau Sentani dengan menampilkan beberapa kesenian dan tarian rakyat,  malam renungan di Taman Imbi Jayapura, anjangsana pelajar ke para tokoh pejuang Papua, ziarah ke TMP di Waena dan TMP Marthen Indey di Kertosari dan juga hiburan rakyat.  Sebagai puncak peringatan adalah upacara secara besar-besaran (seperti peringatan 17 Agustus termasuk pengibaran merah putih) di Lapangan Mandala. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh komponen masyarakat, baik TNI/Polri, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan serta para pelajar dan Mahasiswa.

Menurut Ketua Panitia Peringatan Kembalinya Irian Barat ke NKRI Tingkat Provinsi Papua Dandim 1701/Jayapura Letkol Kav. A.H Napoelon,  tujuan utama diperingatinya momen itu secara besar-besaran adalah untuk meningkatkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air dan mengajak semua komponen masyarakat untuk mengenang kembali peristiwa heroik, dan juga ingin Papua ini menjadi harapan bangsa Indonesia ke depan. “1 Mei sebagai hari kembalinya Irian Barat ke Pangkuan NKRI merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah dari bumi pertiwi dengan ditandai kembalinya Irian Barat ke NKRI. Ini berarti bahwa kedaulatan dan keutuhan Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke telah terwujud,” katanya seusai mengikuti ziarah ke Taman Makam Pahlawan di Waena pada  Selasa 29 April 2008.

Danau Sentani termasuk salah satu wilayah yang sangat monumental saat 1 Mei 1963. Dimana saat Belanda menyerahkan Irian Barat ke NKRI Presiden Soekarno mencanangkan pertama kalinya di Kampung Harapan, Sentani.  Di tengah rangkaian upacara itu, para mantan pejuang akan membacakan ikrar agar 1 Mei dijadikan hari libur nasional yakni sebagai hari keutuhan nasional. Mengapa demikian, sebab saat 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamirkan sebagai Hari Kemerdekaan, Irian Barat ini masih ditahan dan dijajah Belanda. Selanjutnya pada 1 Mei 1963, Indonesia yang tadinya hanya dari Sabang sampai Maluku, wilayahnya sudah utuh yakni meliputi dari Sabang sampai Merauke dengan ditandai kembalinya Irian Barat (Papua) ke NKRI. Hari Keutuhan Nasional wajib diperingati seluruh Bangsa Indonesia dari sabang sampai Merauke.

 

 

 

 

 

Government Papua Province Continuing to Build Solar Power Energy in Papua

April 15, 2008

Government Papua Province never stop building Papua.  Last week on 9 April 2008, the Head of Mining and Energy Service Toto Purwanto stated that the Government Papua Province (Pemprov) has used “Special Autonomy Fund” (Dana Otsus) from 2008 onwards for building Solar Power Energy (PLTS) in two regencies.  in Yapen Regency it has built 98 units and in Supiori regency 220 units.  Last year, Papua Pemprov has also built 50 units of PLTS spreading in Tolikara, Boven Digoel and Pegunungan Bintang.

 

For the last project, he added that the tender-development process of those PLTS has been undergoing some time ago and recently it has entered phase of work contract.  “The Development of this PLTS can be realized soon,”  he added.

 

Besides, the development of the third turbin of Micro Hydro Power Plant (PLTMH) in Mulia Puncak Jaya planed to operate this month.  Now, its machine is on the way.  As noted that Turbine 1 and 2 have started operating. The Mining and Energy Service of Papua Province in 2007 has also been programming 8 PLTMHs in some regencies suc as in Wamena (2), in Paniai (1), Puncak Jaya (1), Yahukimo (1), Yapen (1) and Jayapura (2).  All of those projects have been completed and has been operating except in Puncak Jaya which just operating 2 from 3 total turbines.

 

Understanding Papua 5 (Society and Culture)

March 23, 2008

As a result of Papua’s varied topography there are hundreds of ethnic groups all with different cultures and traditions. In reference to its varied topography and different cultures, Papuan people can be broadly divided into three major groups:
• Coastal and island inhabitants who have usually have houses on stilts and earn their livelihoods from sago and catching fish.
• Land inhabitants who live by rivers, swamps, lakes and at the bases of mountains and usually making their living by catching fish and hunting and gathering in the forests.
• Highland inhabitants who farm and breed animals in order to earn an income.
Generally, the Papuan people live in a kinship system that follows a patrilineal line.
There are hundreds of regional languages which have developed in Papua; this diversity in language results in difficulties in communication between different ethnic groups. As a result of this, Indonesian is generally used in Papua, even in the remote areas.

West Papua Monitor

February 1, 2008

WPP, 1 Februari 2008. Upaya gerakan papua merdeka untuk menarik simpati massa sekaligus untuk raising fund tampaknya belu berhenti. Hal ini terungkap dari dua wanita Jayapura, Papua Barat yang ditemukan sedang membuat tas dan selanjutnya menjualnya. Pada 17 Januari 2008 polisi mendapati dua wanita tersebut masing-masing bernama Yohana Pekei dan Nelly Pigome.  Mereka  membuat noken/yum (tas Papua berlambang bintang) dan menjualnya dengan alasan untuk mendapatkan beberapa peni (rupiah) guna menunjang kehidupan keluarga mereka. Sejauh ini belum didapatkan informasi lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Sementara itu, proposal Perdana Menteri PNG Michael Sumare untuk memperlunak larangan-larangan di perbatasan antara Indoensia- PNG mendapat sambutan dari Father Neles Tebay, seorang pemimpin gereja Diosis Katolik Jayapura. Ia mengatakan orang papau sepatutnya bergerak secara bebas melewati tapal batas karena mereka adalah sama-sama orang Melanesia. Permintaan Michael Somare tersebut disampaikan kepada Presiden Indonesia Susilo Yudhoyono pada konferensi ‘climate change’ di Bali. Father Neles juga meminta pengurangan jumlah tentara di wilayah perbatasan dengan alasan kehadiran mereka menyebabkan rasa takut dan akibatnya orang tidak bergerak dengan bebas.

Adapun di Inggris,  pada 10 Januari 2008 segelintir aktifis Free West Papua Campaign mengundang masyarakat Oxofod untuk menyamput tahun baru.  Dalam kesempatan itu, Benny Wenda mengucapkan terimakasih kepada Walikota Oxford yang telah mengijinkan pengibaran Bintang Kejora selama 4 hari di Kantornya.