Para Pendukung Free West Papua

Beberapa anggota parlemen dan gereja di Australia yang terlibat dalam mendukung Papua merdeka diantaranya Greg Sword (anggota parlemen tingkat negara bagian Melbourne dari Partai Buruh), Senator Kerry Nettle (anggota parlemen dari Partai Hijau),  Senator Andrew Barlet (Partai Demokrat Australia), Bob Brown (Ketua Partai Hijau Australia dan senator), demikian yang dinyatakan pada 6 April 2006 oleh Komisi I DPR Effendi Simbolon.

Pada 25 Oktober 2000, Direktur Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) Papua, John Rumbiak menandatangani Momerandum of Understanding (MoU) dengan Greg Sword yang intinya mereka mendukung setiap gerakan separatis Papua.  Sejak tahun 2000, Bob Brown aktif memotori terbentuknya Parliamentary Group on West Papua. Pada 2003, Bob mengkampanyekan masuknya beberapa submisi kepada parlemen Australia dengan mengangkat pelurusan sejarah Irian Jaya dan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Irian Jaya.  Adapun Senator Kerry Nettle terlibat memperjuangkan suaka politik bagi 42 warga Papua. Bahkan, pada 2 April 2006 Nettle mendapatkan penghargaan “Mahkota Papua” dari kelompok pro-separatis di Sydney.   Sedangkan, Senator Andrew Barlet mendukung kampanye penentuan nasib (self determination) bagi rakyat Irian Jaya. Barlet juga pernah mengirimkan surat kepada Sekjen PBB untuk meninjau kembali keabsahan Pepera 1969.

Parliamentary Group on West Papua yang dimotori oleh Bob Brown juga didukung oleh organisasi internasional seperti Asia Pacific Human Rights Network (APHRN), West Papua Action Australia (WPA-A), Action in Solidarity With East Timor (ASIET), Australian Council for Overseas Aid (ACFOA), East Timor Action Network (ETAN) dan The Centre for People and Conflict Studies The Unversity of Sydney. Lembaga yang terakhir itu memiliki proyek yang disebut West Papua Project (WPP) dan dipimpin oleh Prof Stuart Rees, seorang peneliti dan penulis tentang Indonesia.  Prof Denis Leith juga turut memberikan dukungan terhadap pro kemerdekaan Papua dengan cara membantu penggalangan dana bagi WPP.

Sedangkan dari media massa Australia antara lain Christ Richard, seorang redaktur New Internationalist Magazine, Australia, aktif membantu penyelenggaraan seminar tentang Papua di Australia. Salah satu seminar yang pernah diselenggarakan di Gedung Dewan Serikat Buruh, di Victoria pada 25-26 Februari 2003 adalah bertajuk West Papua Features. Selain nama-nama dan organisasi di atas terdapat nama-nama Duncan Ken (anggota parlemen Australia dari Tasmania), Susan Conely (Persekutuan Gereja Australia), John Barr (bekas Ketua United Church).

Pada 2 April 2006 baru lalu, bendera “Bintang Kejora” dikibarkan oleh West Papua Association (AWPA) di Sydney. Pengibaran bendera itu dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta. Sementara itu, Partai Liberal Australia  partainya John Howard masih konsisten mendukung kedaulatan NKRI.

4 Comments »

  1. Comment from Jogjakarta under http://id.dada.net/profile/mood/pYaNygkuYgAUoIxgoo1U2.d_VZD2yrkFryP.r/ipaanimeeopm5426/

    Thanks, I am always your bro in good and bad times and looking forward to meeting you anywhere, anytime if opprtunities come our way.

  2. Don’t let yourself as an object. You’re now a subject for yourself.
    21st century colonization style has shown by British commonwealth.

  3. SALAM

    Sebenarnya, tulisan dalam blog ini tidak perlu dikomentari dengan kalimat-kalimat yang panjang lebar atau “ngalor-ngidul” (Djawa sedikit to…). Tetapi kalo dikaji lebih mendalam dari hasil laporan atau tulisan ini, sebenarnya adalah permainan kaum “Kapitalis, Borjuis, Pemodal yang Haus Darah bagaikan ideologi BARBAR dan menginginkan (pertikaian/konflik horisontal) yang menginginkan situasi Papua tetap kacau. Maka ide atau gagasan yang disampaikan oleh Karl Marx dan Russou adalah benar dan sangat nyata.

    Perlu diingat bahwa ideologi kaum Kapitalis adalah Uang/Harta-kekayaan dan Emas, bukan memanusiakan manusia Papua menjadi orang yang berkualitas (mak: dapat berkarya sebagaimana mestinya di tanah leluhurnya sendiri).

    Wassalam

    • 4
      meites Says:

      benar sekali komentar anda,saya juga sependapat dengan bapak,karena menurut kenyataannya sekarang ini kebanyakan orang ternasuk orang asal papua kompromi dalam dosa haus akan dara hanya untuk mendapatkan selumbar kertas duit,kekayaan demi diri pribadinya dengan tidak menggigat bahwa orang papua adalah orangku,tetapi lebih-lebih menyerahkan orang papua,..
      sekalipun bapak bukan orang asli papua,saya setuju dengan pendapatnya.tetapi awal mulanya saya ada tetap pada tempatnya
      Terima kasih !!!


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: