Mencicipi Kopi Wamena, Jayawijaya

SUKU-suku di Jayawijaya (Irian Jaya) dikenal tradisi perangnya di masa silam. Mereka terbiasa dengan berperang melawan kedahsyatan alam untuk mempertahankan hidupnya sehari-hari. Mereka mencukupi kebutuhan pangannya dengan menggantungkan pada jenis varietas umbi-umbian antara lain hipere dibudidayakan dengan peralatan seadanya dan layaklah kalau mereka disebut pakar umbi-umbian. Tahun 1997, keganasan alam (kekeringan, kebakaran hutan) menimpa penduduk Jayawijaya, yang memiliki luas 62.433 kilometer persegi, belum pernah dialami sebelumnya. Sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar dalam perekonomian Jayawijaya, ketika menyumbang sebesar 56,85 persen-turun 2 persen dari tahun sebelumnya-dari keseluruhan total kegiatan ekonomi. Selama tiga tahun terakhir (1998-2000), pertanian membukukan angka di atas 60 persen dengan tahun 2000 tercatat 62,61 persen. Sebagian besar pertanian ini ditopang oleh tanaman bahan makanan, mencapai 58,29 persen. Total kegiatan ekonomi Kabupaten Jayawijaya tahun 2000 nilainya Rp 775,4 milyar.

Meskipun kaya akan potensi alam, Kabupaten Jayawijaya memiliki kegiatan ekonomi per kapita setiap tahunnya memegang rekor terendah dari 14 kabupaten/kota yang ada di seluruh Provinsi Irian Jaya. Tahun 1999, kegiatan ekonomi per kapita nilainya Rp 1,3 juta. Sedangkan Kabupaten Fakfak yang selalu di peringkat tertinggi membukukan angka Rp 43,8 juta.

Harapan untuk menambah kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya selama ini, salah satunya digantungkan pada wisata Lembah Baliem. Lembah yang luasnya sekitar 45 kilometer persegi dengan ketinggian rata-rata 1.500 meter di atas permukaan laut dan berudara sejuk antara 15-29 derajat celcius ini menjadi andalan kuat pariwisata Kabupaten Jayawijaya.Perang antarsuku di Lembah Baliem yang dulu selalu menimbulkan korban dan dendam, sudah lama tidak lagi terjadi. Perang sudah berubah menjadi pertunjukan perang-perangan bagi wisatawan dan memberi masukan bagi kas pemerintah kabupaten. Tontonan ini sekarang menjadi salah satu paket wisata tahunan setiap bulan Agustus dan dikemas dalam Festival Lembah Baliem.

Tentunya harapan kita arus wisatawan tahun 2008 ini akan jauh lebih baik dibanding dengan tahun 1994 yang sebanyak 1.100 turis dan tahun 2001 hanya tercatat 70 wisatawan asing. Dengan ditemani sepoci kopi panas Wamena, West Papua Point team, merasakan lebih nyaman tak kalah dengan duduk-duduk Starback Cafe. Aroma dan cita rasanya kopinya tidak kalah dengan Toraja Coffee, Mandheiling Coffee maupuan Java Coffee yang sudah lebih dulu dikenal lidah bangsa Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat.

Pada akhir tahun 2000, luas lahan tanaman kopi di Kabupaten Jayawijaya tercatat 3.076 hektar, yang merupakan hampir setengah (42,7 persen) dari luas total (6.208 hektar) areal perkebunan kopi Provinsi Irian Jaya. Perkebunan yang keseluruhannya milik rakyat ini tersebar di Kecamatan Tiom, Bokondini, dan Asologaima. Produksi kopi Jayawijaya yang juga diekspor ke Singapura, Jepang, dan Australia ini, besarnya 316,30 ton atau setara dengan hampir setengah produksi kopi provinsi yang besarnya 740,3 ton.Di bumi Jayawijaya juga tersimpan potensi tanaman umbi-umbian, rempah-rempah dan tanaman obat-obatan tradisional.

1 Comment »

  1. 1
    Sochib Says:

    Permisi bos mau tanya nih, kalo di jakarta mau beli kopi wamena dimana ya?


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: